Bakso Sukowati : Ketika Harga bertemu Kualitas

IMG00887-20130413-1705Sudah lama rasanya tidak review kuliner di blog ini. Maka dari itu, hari sabtu kemarin aatblog bela belain datang jauh jauh dari pamulang ke cibubur cuma buat mencicipi seporsi bakso yang direkomendasikan oleh salah satu teman kantor. Setelah tanya sana tanya sini (terima kasih to Mr. Purnawan atas info-nya), akhirnya kami sampai disuatu kedai bakso didaerah cikeas. Sebenernya ini bukan benar benar daerah cikeas, karena lokasinya sebenarnya lebih dekat ke jalan raya cibubur, tapi karena sudah masuk ke “gang” cikeas, makanya namanya jadi cikeas. Konon katanya, pada jaman dahulu kala, pak SBY suka makan bakso disini, makanya didalam rumah makannya juga ada foto beliau dan istri. Oke cukup ngomongin daerahnya, mari beranjak ke topik kuliner yang sesungguhnya.

IMG00882-20130413-1701Masuk kedalam rumah makan, parkiran-nya terasa cukup luas. Beberapa mobil sudah antri duluan sebelum saya datang. Padahal waktu baru menunjukkan jam 17:00, sebuah waktu yang amat sangat jarang digunakan untuk bersantap. Bisa dibayangin kalau datangnya pas “premier time” antara jam 11:00 s/d 13:00, pasti lebih penuh lagi. Ketika masuk, saya mendapati ruangan yang awalnya agaknya digunakan untuk tempat tinggal, terdapat beberapa pilar besar ciri khas rumah mewah. Tapi sayang, keberadaan pilar itu sedikit banyak menjadikan layout meja makan menjadi terasa sempit dan kurang optimal.

Saya memilih tempat duduk di salah satu meja sambil memesan seporsi bakso dengan tambahan mie dan bihun. Buat seseorang yang suka memesan “bakso-nya saja”, saya sengaja melakukan hal ini untuk mencoba kualitas mie dan bihunnya. Pelayanan-nya lumayan cepat, tidak sampai 10 menit, bakso yang saya pesan sudah diantar. Enam bakso berukuran lumayan besar (kira kira seukuran bola bekel), mie dan bihun serta kuah yang berwarna sedikit keruh karena terdapat kaldu daging, menghiasi pandangan pertama saya pada bakso ini, walaupun sayangnya saya tidak melihat ada tetelan didalam kuah bakso-nya. Dari kasat mata, saya memperkirakan nilai bakso ini ada diantara skala 8 s/d 10 (baca=enak banget). Dan seperti biasa, saya mencoba mencicipi terlebih dahulu dari kuahnya tanpa ditambahkan apapun juga, supaya tau citra rasa aslinya.

IMG00881-20130413-1635Jreeeng,.. seperti yang sudah diduga, di kuahnya memang terdapat sari pati daging, tapi yang unik, citra rasa segarnya masih tetap terasa. Tapi tunggu dulu,… kok sepertinya ada yang kurang ya ?, aaaah ternyata bakso ini masih belum diberikan garam. Terpecahkanlah sudah, mengapa disetiap meja terdapat seporsi garam. Tidak menunggu waktu lama, saya langsung memberikan garam dan juga bumbu bumbu lain sesuai selera. Aduk aduuuuuk,… yup,.. selesailah persiapannya, dan seporsi bakso ‘berbumbu’ siap di review.

Bihunnya lumayan, seperti kebanyakan bihun di beberapa kedai bakso kebanyakan. Tapi kualitas mie-nya kok agak kurang ya ?, mie-nya lebih kecil dan menurut aku lebih mirip ke mie “indomie”. Sementara bakso-nya terasa kenyal tapi tetap lembut didalam, artinya campuran adonan dan daging baksonya setara dengan komposisi kira kira 70% daging dan 30% adonan. Hal ini ada diatas rata rata kedai bakso kebanyakan yang campurannya biasanya berkisar 50:50 atau mungkin lebih banyak adonannya.

IMG00885-20130413-1704Bakso yang disajikan disini bukanlah bakso urat, jadi jangan harap memesan/menemukan bakso urat, namun demikian karena banyak-nya porsi daging sapi yang ada dalam tiap butir bakso, menjadikan kualitas bakso ini bisa mengalahkan bakso urat di kedai bakso biasa. Satu sendok, dua sendok,.. tanpa terasa 6 butir bakso sudah bergabung dengan makanan lain dalam perut yang sudah lebih dulu masuk. Masih penasaran, saya memesan satu porsi lagi tapi kali ini tanpa diberi mie dan bihun (makan apa doyan !? heheheh,…).

Saya membayar total sekitar 80 ribu untuk 4 porsi bakso plus 3 minuman es teh manis, berarti cukup terjangkau. Karena dikedai bakso lain dengan citra rasa yang setara, kita bisa membayar 17-ribuan per porsi. Sebuah harga yang sangat baik untuk kualitas bakso seenak ini.

Kesimpulan :
Bakso ini termasuk dalam kategori bakso yang sangat enak walaupun terdapat beberapa kekurangan seperti disajikan tanpa garam (karena tidak semua orang dapat memberi garam sesuai dengan kehendak mereka), penataan tempat yang buruk, tidak terdapat tetelan bakso,  sampai minimnya cemilan sahabat bakso seperti gorengan dan kerupuk kulit.

Sementara kelebihan bakso ini terletak pada harganya yang cukup terjangkau, kualitas butir baksonya yang kenyal dan lembut, dan citra rasa kuahnya yang tidak pasaran. Secara keseluruhan, bakso ini sangat layak dicoba karena kualitasnya yang sangat enak tidak serta merta membuat kita merogoh kocek lebih dalam. Jadi, kalau kita ingin merasakan bakso dengan harga yang pantas dan kualitas yang berkelas, silahkan mencicipi bakso ini, karena aatblog berani memberi skor 8.5 of 10 yang berarti sangat enak !!!.

Pembanding :
1. Versus Bakso Kejaksan Cirebon (Overall : Kalah)
2. Versus Bakso Pak Kumis Slipi Kompleks Djarum (Overall : Kalah (sedikiiiit))
3. Versus Bakso Puskesmas Taman Gandaria (Overall : Menang Telak)
4. Versus Bakso Pendy Kemanggisan (Overall : Menang sedikit)
5. Versus Bakso 88 Slipi (Overall : Menang)

 

One Response to Bakso Sukowati : Ketika Harga bertemu Kualitas

  1. Purnawan says:

    Kata pak Bondan : Top markotop.. kata Benu Buoe : hautche ping ping ping…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: